Invalid Date
Dilihat 1.687 kali
Enrekang - Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel) tidak hanya menyajikan keindahan alam namun juga menyimpan jejak misteri dengan keberadaan Makam Tua Manduk Patinna. Di kawasan ini tersusun ribuan tengkorak yang konon telah berusia ratusan tahun. Makam Tua Manduk Patinna yang terletak di Desa Kadingeh, Kecamatan Baraka, Enrekang. Lokasinya berjarak 2 kilometer dari pusat desa yakni Dusun Dea Kaju. Letak makamnya yang berada di dalam hutan membuat pengunjung atau wisatawan harus berjalan kaki memasuki hutan karena tidak akses kendaraan.
Saat menelusuri Makam Tua Manduk Patinna nampak kawasan makam berada di samping tebing tinggi. Saat memasuki area penjaga makam memberitahu beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan pengunjung atau wisatawan.
"Jadi tolong diperhatikan sebelum kita memasuki makam ini, kita tidak boleh berbicara kasar, memegang tengkorak dan jangan bercanda berlebihan. Ini untuk menghormati leluhur kita," kata penjaga makam, Yadukallan kepada detikSulsel, Senin (3/10/2022).
Makam Tua Manduk Patinna di Enrekang.
Lokasinya yang berada dalam hutan memberi kesan seram pada pengunjung. Tetapi pengalaman menelusuri kawasan makam ini cukup seru dan menantang. Saat memasuki kawasan makam, jejeran tengkorak, tulang belulang dan peti jenazah kuno yang tersusun rapih langsung terlihat. Beberapa batas spot foto berupa jembatan bambu yang dibangun oleh swadaya masyarakat desa, menambah estetika makan tua tersebut.
"Ada ribuan kalau tengkorak di sini. Mungkin ini lebih banyak yah dari di Toraja," kata Yadukallan. "Warga juga sempat menemukan benda pusaka seperti sumpit untuk memburu, sisir tradisional yang terbuat dari bambu, gelang, dan pecahan piring kuno. Itu semua disimpan di museum desa biar tidak ada orang yang ambil," jelasnya.
Dulunya Tempat Sakral dan Tidak Dikunjungi
Yadukallan mengungkapkan makam kuno itu ditemukan warga puluhan tahun silam. Ia mengatakan dulu kawasan hutan tempat Makam Tua Manduk Patinna sangat disakralkan oleh warga setempat.
"Jadi dulu tidak ada orang berani masuk. Tapi karena keadaan makam sudah memprihatinkan, warga mencoba menjadikan objek wisata. Ini bertujuan agar nilai sejarah makam bahkan Desa Kadingeh tetap terjaga," jelasnya. "Jadi ada juga satu makam di sana, itu Nene Guru Malea. Imam pertama di desa dan salah satu yang menyebarkan agama Islam di Enrekang. Nah masyarakat sering berziarah ke makam itu, biasanya kalau ada nazar yang tercapai itu mereka pergi ziarah," bebernya.
Asal Nama Manduk Patinna
Kepala Desa Kadingeh, Umar saat ditemui menjelaskan bahwa nama Manduk Patinna yang disematkan pada kawasan makam tua tersebut berasal dari salah satu penghuni makam, yakni Indo Manuk Patina. Diketahui peti milik Indo Manuk Patina sendiri merupakan peti terbesar di area makam tersebut. "Di setiap sisi petinya terdapat ukiran-ukiran kuno, bahkan Lontara (abjad Bugis kuno)," jelasnya.
Dia menambahkan, dirinya bersama warga menjadikan makam tua tersebut sebagai objek wisata dengan tujuan wisatawan dapat mengetahui sejarah peradaban di Desa Kadingeh. "Alhamdulillah dampaknya sekarang sudah sering ada wisatawan datang dan mengetahui sejarah desa kami," jelas Umar. Selain belajar sejarah dirinya juga mendapatkan pengalaman berwisata yang tidak terlupakan.
Bagikan:
Desa Kadingeh
Kecamatan Baraka
Kabupaten Enrekang
Provinsi Sulawesi Selatan
© 2025 Powered by PT Digital Desa Indonesia
Pengaduan
0
Kunjungan
Hari Ini